Meneladani Jalan Hidup Syeikh Hasyim Asy’ari

Syeikh Hasyim  Asy’ari adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi terbesar di Indonesia. Ia dikenal sebagai ulama yang nasionalis dan banyak berkontribusi dalam peristiwa-peristiwa penting negara Ini.

Sebelum kemerdekaan, beliau banyak berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Resolusi jihad adalah salah satu instruksi beliau yang membakar gelora para santri untuk terlibat penuh dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Seperti diabadikan dalam banyak media, beliau dikenal memiliki kedekatan dengan Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia dan membantunya dalam urusan kenegaraan. Kedekatan Syeikh Hasyim Asy’ari dan Bung Karno adalah lambang sinergi antara Ulama dan Umara’ dalam mewujudkan Indonesia yang damai.

Sebagai ulama, Kiai Hasyim membangun Indonesia bersama rakyat dari bawah. Setiap hari ia bergerak membangun kedamaian rakyat, melalui mengaji, belajar, dan berjuang melawan penjajah. Dalam jiwa santri yang diajarinya ditanamkan nila-nilai perdamaian dan toleransi serta komitmen untuk setia dengan NKRI.

Meski lulus belajar dari Mekkah dengan gelar Hadratus Syeikh, namun Syeikh Hasyim selalu bijaksana menyikapi perbedaan. Ia tidak pernah menganggap bahwa pandangan beliau adalah pandangan yang paling benar. Ia sangat mengecam kekerasan, juga sangat toleran dengan perbedaan pandangan dan pendapat.

Bung Karno dan Syeikh Hasyim sama-sama membangun bangsa dimulai dari akar rumput. Syeikh Hasyim menemani masyarakat bawah dalam belajar ilmu agama dan sosial masyarakat, sementara Bung Karno membangun semangat persatuan dan kesatuan melalui ideologi-ideologi yang disebarnya pada masyarakat kalangan bawah.

Membangun Indonesia damai harus dimulai dari bawah. Pada umumnya, gejolak mudah disulut dari bawah yang buta dengan situasi politik dan ekonomi. Sehingga dengan harmoni antara ulama dan umara di kalangan bawah akan menjadi fondasi untuk menghadirkan tatanan sosial yang saling menghargai dan toleran.

Ulama memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat dengan dinamika sosial yang beragam. Fungsi strategis itu meliputi; pertama, basyiran  (memberi kabar gembira) dengan memberikan perspektif dan pemahaman bagi upaya pembangunan; kedua, nadziran (memberikan kesadaran kritis) kepada masyarakat agar mereka mampu mengembangkan penalaran yang kritis terhadap ideologi maupun teknologi dengan menyadari permasalahan dan potensi yang mereka miliki untuk mampu mengubah nasibnya sendiri.

Ketiga, da’iyan ilal haqq, (memanggil kepada kebenaran hakiki) yang kadang-kadang telah dikaburkan oleh propaganda maupun pendapat umum; keempat, sirajan muniran, memberikan terang iman dan pencerahan akal budi. Semua itu niscaya dilakukan ulama dengan menampilkan Islam yang hakiki sebagai rahmatan lil-‘alamin.

Melihat kiprah Syeikh Hasyim Asy’ari, keempat fungsi di atas jelas telah diamalkannya dalam kehidupan masyarakat. Dengan mengamalkan peran strategis itu, terciptalah kolaborasi yang serasi antara ulama dan umara sehingga tercipta Indonesia yang damai dan tenteram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *