Meminta-minta dalam Pandangan Nabi Muhammad dan Aristoteles

Berbincang tentang peminta-minta, kita akan dihadapkan pada situasi yang dilematis. Sebab tidak semua orang yang meminta-minta memiliki ekonomi yang rendah. Juga tidak semua peminta-minta berada dalam kondisi terjepit, melainkan hanya karena malas untuk bekerja.

Banyak media telah memberitakan bahwa tidak sedikit peminta-peminta yang sebenarnya kaya. Bayangkan saja, jika peminta-minta dalam sehari bisa mendapatkan uang sebesar seratus ribu. Maka dalam waktu satu bulan, dia mendapatkan uang sekitar Rp. 3 juta.

Angka yang cukup besar untuk masyarakat biasa. Karyawan toko saja pada umumnya digaji sekitar Rp. 1 juta per bulan. Jika demikian, bukankah pendapatan peminta-minta lebih besar dari gaji pekerja?

Dilihat dari kacamata Islam, meminta-minta untuk memperkaya diri adalah perbuatan yang tercela. Sebagaimana hadis Nabi SAW:  

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya.” (HR. Muslim No. 1041).

Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i, ia berkata,

قَدْ بَايَعْنَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلَامَ نُبَايِعُكَ؟ قَالَ: «عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلَا تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»

Kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah, namun apa saja perjanjian yang wajib kami pegang dalam baiat ini? Rasulullah bersabda: ‘Wajib bagi kalian untuk menyembah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, mengerjakan salat lima waktu, taat kepada pemimpin, (lalu beliau melirihkan perkataannya) dan tidak meminta-meminta kepada orang lain sedikit pun.‘” (HR. Muslim No. 1043).

Merujuk pada kedua hadis tersebut, jelaslah bahwa Islam mencela orang yang meminta-minta. Perilaku meminta-minta merupakan indikasi dari seseorang yang pemalas.

Aristoteles, salah satu tokoh filsuf Yunani yang terkenal dari zaman dahulu hingga kini, memberikan gambaran cara memperoleh kebahagiaan yang berkaitan dengan perilaku meminta-minta.

Pertama, tidak menyamakan kebahagiaan dengan harta yang berlimpah, tapi lebih kepada bakat yang dimilki. Kedua, bukan mencari kenikmatan dengan cara yang sederhana (meminta-minta). Ketiga, mengembangkan diri sesuai bakat dan minat yang dimiliki.

Di sini Aristoteles menekankan, jangan hanya mencari kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Hal demikian identik dengan meminta-minta yang terlampau gampang mencari uang tanpa bekerja keras.

Berdasarkan ulasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa terkait perilaku meminta-minta, pandangan Aristoteles mirip dengan pandangan Rasulullah SAW.Keduanya sama-sama memandang perilaku meminta-minta bukanlah suatu hal yang baik. Memperoleh kekayaan haruslah dengan kerja keras, tidak boleh dengan cara instan seperti meminta-minta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *