Inilah Dua Penyebab Rusaknya Hati Menurut Imam Al-Muhasibi

Rasulullah SAW bersabda:

وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis di atas diketahui bahwasanya hati merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Apabila hati dalam keadaan baik, maka  baik pulalah kehidupan seseorang. Sebaliknya, apabila hati rusak, rusak pulalah kehidupan seseorang.

Hati yang dimaksud di sini orientasinya pada  hal-hal batiniah yang tidak bisa diobati dengan sekadar minum obat dari dokter. Akan tetapi, dengan pengertian keruhaniaandan  pendekatan diri kepada Allah, serta anjuran bertakwa kepada-Nya.

Selain itu, yang semestinya diwaspadai setiap orang agar hatinya tidak rusak adalah dua hal yang disebutkan  Imam Al-Muhasibi dalam kitabnya, Risalah Al-Mustarsyidîn berikut ini:

وَأَصْلُ فَسَادِ الْقَلْبِ تَرْكُ الْمُحَاسَبَةِ لِلنَّفْسِ وَالْإِغْتِرَارِ بِطُوْلِ الْأَمَلِ

“Asal dari rusaknya hati yaitu meninggalkan muhasabah diri dan tertipu dengan panjangnya ambisi.” (Al-Harits Al-Muhasibi, Risalah al-Mustarsyidin, Dar el-Salam, halaman 110)

Dari hal di atas, dapat dipahami bahwa faktor utama yang menyebabkan kerusakan hati sehingga bisa menjauhkan hal-hal baik yaitu:

Meninggalkan muhasabah atau introspeksi diri sendiri

Introspeksi diri sebenarnya merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan setiap orang. Tiada yang lebih mengetahui diri seseorang selain dirinya sendiri dan Allah SWT.

Oleh karena itu, introspeksi diri bisa jadi lantaran seseorang merenungkan segala kesalahan dan keburukan yang ia sembunyikan. Ia mengadu kepada Allah, untuk kemudian menyesalinya dan bertobat kepada Allah.

Tertipu daya dengan panjangnya ambisi atau angan-angan

Mengapa kita tidak boleh panjang angan? Sebab kita akan tertipu dengan dunia dan melupakan akhirat. Hal ini bukan berarti melupakan dunia seluruhnya, namun lebih kepada menghimbau kita untuk bersikap zuhud, mengambil sesuatu seperlunya saja.

Kemudian Al-Harits Al-Muhasibi menganjurkan kita juga untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam usaha menahan angan-angan yang berlebihan:

وَاسْتَعِنْ عَلَى قِصَرِ الْأَمَلِ بِدَوَامِ ذِكْرِ الْمَوْتِ

“Dan mintalah pertolongan untuk membatasi angan-angan dengan cara mendawamkan mengingat kematian.” (Al-Harits al-Muhasibi, Risalah al-Mustarsyidin, Dar el-Salam, halaman 110)

Demikianlah, kedua hal di atas harus benar-benar kita waspadai agar dijauhkan dari rusaknya hati kita. Semoga saja Allah SWT senantiasa bersama orang-orang yang  waspada  akan rusaknya hati mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *