Ciri-Ciri Ulama Yang Sebenarnya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Dari hadis di atas jelas bahwa peran ulama untuk kelestarian Islam di dunia sangat penting. Ulama adalah pewaris Nabi SAW, yang darinya ajaran-ajaran Nabi Muhammad akan terus bertalian.

Kata ulama sendiri, dalam KBBI bermakna ‘orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam’. Dengan kata lain, ulama pastilah punya pengetahuan agama yang jauh lebih luas dibandingkan ustad yang dinilai sebatas guru agama saja.

Menjadi ulama tentulah cukup berat. Karena seorang ulama haruslah menguasai ilmu-ilmu tertentu dan dalil hukum dalam Islam, termasuk penguasaan bahasa Arab beserta ilmu-ilmunya. Selain itu, ulama haruslah memiliki sikap-sikap kearifan yang lebih luas daripada orang-orang biasa.

Ibnu Rojab al Hambali dalam kitab “Bayaan Fadhl Ilmi as Salaf Alaa Ilmi al Kholaf” pernah menjelaskan panjang lebar tentang karakter ulama yang baik, di antaranya adalah:

Pertama, mereka tidak pernah merasa punya kedudukan tinggi, hati mereka membenci pujian dan pengkultusan, tidak pernah menyombongkan diri terhadap siapapun, karena seorang ulama itu setiap kali bertambah ilmunya semakin tawadhu (rendah hati) kepada Allah. Firman-Nya:

إنما يخشى الله من عباده العلمــؤا إن الله عزيز غفور…

“….. Sesungguhnya golongan yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah para ulam’. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(QS. Al-Fathir: 28)

Kedua, tidak pernah mengklaim diri punya ilmu, karenanya, mereka tidak pernah merasa bangga di hadapan orang lain, serta tidak menganggap orang lain bodoh, kecuali kepada orang yang menentang ajaran Nabi dan pewarisnya. Mereka tidak pernah marah kecuali karena kepentingan Allah, bukan kepentingan dirinya.

Ketiga, mereka selalu berprasangka jelek terhadap diri mereka sendiri. Sebaliknya, mereka selalu berprasangka baik kepada ulama-ulama pendahulu mereka, dan mengakui keunggulan ulama-ulama pendahulu dalam hati dan diri mereka, serta merasa tidak mampu mencapai atau mendekati derajat mereka.

Dari ketiga ciri-ciri yang dipaparkan Ibnu Rojab al Hambali di atas, dapat dimaknai bahwa sebenar-benarnya ulama adalah yang memiliki sifat tersebut. Pun juga mengenai kedalaman ilmunya.

Sementara apabila ada orang yang mengaku-ngaku sebagai ulama, disertai rasa kesombongan dan keinginan untuk ditinggikan, itu bukanlah ulama yang sebenarnya. Dan sebaiknya hati-hati menerima fatwa-fatwanya.

Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *