Hal-Hal Yang Dimakruhkan Ketika Mengumandangkan Azan Dan Iqamah

Seperti telah dijelaskan pada artikel hijraa yang lainnya, azan dan iqamah merupakan serangkaian seruan bahwa waktu salat telah tiba. Selain itu, dalam azan dan iqamah terdapat keutamaan-keutamaan yang luar biasa bagi yang mau mengumandangkannya. Sabda Nabi Muhammad SAW:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوْا

”Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang didapatkan dalam azan dan shaf pertama kemudian mereka tidak dapat memperolehnya kecuali dengan undian niscaya mereka rela berundi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari No. 615  dan Muslim no. 980).

Agar keutamaan-keutamaan dalam mengumandangkan azan maupun iqamah itu jadi sempurna, setiap muazin juga harus memperhatikan adab-adab serta hal-hal yang dimakruhkan dalam mengumandangkan azan maupun iqamah.

Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Nihayatu Az-Zain (h. 98), menyebutkan setidaknya ada delapan hal yang dimakruhkan bagi seorang muazin ketika azan maupun iqamah. Yaitu:

Pertama, muazin tidak memiliki wudu, atau bahkan dalam keadaan junub. Alangkah baiknya yang mengumandangkan azan atau iqamah adalah seseorang yang telah bersuci, dalam artian juga memiliki wudu.

Kedua, melagukan azan dan iqamah lebih dari satu lagu. Maksudnya bermain-main lagu dalam sekali azan atau iqamah. Misalnya seperti takbirnya ikut azan Mekah, syahadatain-nya ala Madinah, dan lain-lain. Apalagi dicampur dengan lagu dangdut, pop, dan sebagainya. Bisa saja menjadi haram apabila dimaksudkan untuk bermain-main.

Ketiga, memanjangkan salah satu huruf karena tuntutan lagu. Misalkan “haa-yyaa”, “akbaaaar”, dan lain-lain. Sedang, apabila sampai merubah makna, bukan hanya makruh, tapi haram.

Keempat, duduk bagi yang mampu berdiri. Apalagi azan sambil tidur-tiduran, tentunya sangat tidak sopan dan tidak sesuai dengan ajaran akhlakhul karimah menurut Islam. Bagi mereka yang tidak mampu berdiri, misalkan mengalami sakit kaki, jika masih ada yang lain, sebaiknya yang mengumandangkan azan orang lain saja. Hal ini juga selaras dengan kaidah fikiyah menghilangkah kemudaratan terlebih dahulu.

Kelima, Menambah lafaz azan yang biasa dengan lafadz “hayya ‘ala khoiril amal“. Karena ini adalah model azan dari kalangan Syiah Zaidiyyah. Lain lagi kalau ia dijadikan ganti dari lafaz azan yang biasa, maka azannya tidak sah. Misalkan dijadikan ganti “hai’alataini“, maka azannya menjadi batal.

Keenam, muazin orang fasik atau anak kecil.

Ketujuh, muazin orang buta jika tidak ditemani jemaah lain yang dapat melihat.

Kedelapan, berbicara dengan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan azan. Misalkan di sela-sela azan malah berbincang-bincang dengan temannya.

Itulah poin-poin yang makruh dilakukan ketika seseorang sedang mengumandangkan azan maupun iqamah. Perlu diperhatikan dan sebaiknya dijauhi demi kesempurnaan azan dan iqamah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *